Nasib Pilu Dirasakan Nenek Umur 71 Tahun, tetapi Kades Gagakan Bungkam". - Media Mitra Hukum Bhayangkara

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 12 September 2026

Nasib Pilu Dirasakan Nenek Umur 71 Tahun, tetapi Kades Gagakan Bungkam".

SAMBONG, Media Mitra Hukum Bhayangkara - Pemberitaan mengenai Mbah Samijah (71), warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, yang hidup di rumah tak layak huni akhirnya menuai perhatian luas dan bantuan mulai mengalir. 

Namun, pertanyaan mengapa ia tersisih justru mengarah pada sikap pemerintah desa yang dinilai abai.
 
Desa Gagakan tercatat menerima kuota 5 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Bantuan Provinsi tahun 2025, serta 11 unit bedah rumah dari aspirasi tahun ini. Meskipun warga sudah sering mengusulkan Mbah Samijah, bantuan tak kunjung datang, dengan alasan tanah yang dihuninya tercatat atas nama anaknya.
 
Ketika sejumlah awak media menghubungi Kepala Desa Gagakan, Sugiarto kemarin, ia tidak merespons. Kemudian saat ditemui dan dimintai tanggapan langsung di lokasi, ia terkesan enggan berkomentar.
 
"Gak sesok ae sesok ae, Wes Yo tanggapane apik ngono ae," ujarnya v sambil berjalan menjauh, Sabtu (12/9/2026).
 


Ditanya lebih lanjut terkait status tanah yang menghambat bantuan, Sugiarto terlihat bergegas pergi dan menjauh dari awak media.
 
"Besok besok besok," katanya sambil langsung menaiki sepeda motornya.
 
Sementara itu, Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Blora, Yannanta Laga Kusuma, hadir membawa bingkisan sembako sekaligus meninjau kondisi rumah Mbah Samijah. Laga yang juga menjabat Kepala Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, menegaskan peran masyarakat dan media sangat krusial dalam mendeteksi kasus sosial.
 
"Kami berharap teman-teman media ataupun masyarakat bisa bersinergi dengan pemangku wilayah masing-masing. Jika ada kasus sosial di desa, bisa langsung dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Pak Kades setempat, lalu disampaikan ke kami untuk segera ditindaklanjuti," ujarnya di lokasi.
 
Laga menambahkan, IPSM Blora menangani beragam persoalan sosial mulai dari krisis air bersih, pendampingan kesehatan, anak terlantar, putus sekolah, hingga kelompok rentan lainnya dan berkoordinasi lintas sektor dengan pihak Kecamatan, Dinas Kesehatan, maupun Dinas Sosial.
 
Meski kepengurusan baru, IPSM sudah bergerak cepat. Salah satu aksi nyata adalah penanganan dua anak terlantar di Desa Temurejo yang hidup tanpa listrik dan belajar hanya dengan penerangan senter. 


IPSM memberikan sepeda listrik dan sepeda gowes, serta menyiapkan modal usaha agar ibu mereka yang bekerja di luar pulau dapat pulang dan mengasuh anak-anaknya sendiri.
 
"Yang paling mengesankan belakangan ini adalah penanganan dua anak terlantar yang hidup tanpa listrik di rumah. Untuk belajar saja mereka pakai senter. Selain memberi bantuan sepeda, kami juga membantu memulangkan ibunya dari luar pulau dan menyokong modal usaha agar beliau bisa mengasuh anaknya sendiri di rumah," bebernya


Red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here