JOMBANG, Media Mitra Hukum Bhayangkara -Dukungan terhadap KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapat respons positif dari sejumlah pengurus NU di Madura.
Gus Rozin dinilai memiliki pengalaman organisasi, latar belakang pesantren, pendidikan, serta jaringan yang cukup luas untuk membawa NU menghadapi tantangan lima tahun mendatang.
Pandangan tersebut disampaikan dalam agenda silaturahmi Gus Rozin bersama jajaran pengurus NU se-Madura di Bangkalan, Ahad (23/8/2026). Dalam pertemuan itu, Gus Rozin memaparkan sejumlah gagasan mengenai arah NU sekaligus mendengarkan aspirasi pengurus di tingkat daerah.
Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir mengatakan, NU membutuhkan figur yang tidak hanya mampu memperluas peran organisasi di tingkat nasional dan internasional, tetapi juga memahami kebutuhan warga NU di akar rumput.
“Kami PCNU Madura memang mencari sosok terkait siapa yang bisa membawa NU ke depan lebih baik. Kami senang dengan kehadiran Gus Rozin agar bisa memahami potensi beliau dalam membawa NU ke depan,” kata Makki.
Pengasuh Pondok Pesantren Falahun Nasiri, Bangkalan, itu menyebut tantangan NU ke depan cukup kompleks. Menurutnya, penguatan jaringan dan peran NU di luar organisasi harus dibarengi dengan pembenahan internal, penguatan pesantren, serta peningkatan pelayanan terhadap jamaah.
“Kami membutuhkan nahkoda NU ke depan yang bisa membawa NU mendunia sekaligus mampu memperkuat NU ke dalam. Kalau hanya memperkuat keluar saja, kita bisa terombang-ambing,” ujarnya.
Makki juga menilai Gus Rozin mempunyai bekal yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Selain pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi dan wawasan global Gus Rozin dianggap menjadi nilai tambah.
“Kami mendengar sosok Gus Rozin memiliki kompetensi yang luar biasa. Keilmuan dan komunikasi global beliau juga baik. Beliau lulusan luar negeri yang paham juga kondisi global,” katanya.
Struktur NU Harus Hadir untuk Jamaah
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas figur calon Ketua Umum PBNU. Sejumlah pengurus NU Madura juga menyampaikan persoalan dan harapan mengenai pola pelayanan organisasi kepada pesantren serta jamaah.
Makki menegaskan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur formal jam'iyyah. Pesantren dan jamaah merupakan bagian penting yang selama ini menjadi fondasi kehidupan NU.
“Harapan kami NU ke depan adalah NU struktural melayani NU kultural. Ini berdasarkan pengalaman kami selama ini dalam melayani pesantren dan jamaah di Madura,” ujarnya.
Karena itu, struktur organisasi dinilai perlu diarahkan agar lebih banyak memberikan manfaat langsung kepada warga. Administrasi dan kelembagaan tetap penting, tetapi keberadaan NU harus dapat dirasakan melalui pelayanan dan pemberdayaan jamaah.
Menanggapi hal tersebut, Gus Rozin mengingatkan pentingnya melakukan evaluasi terhadap pola khidmah di lingkungan NU. Menurutnya, secara kelembagaan NU telah memiliki fondasi yang kuat. Persoalannya terletak pada bagaimana para pengurus menjalankan amanah tersebut.
“NU sudah baik, tetapi terkadang cara kita berkhidmah yang kurang baik dan kurang pas. Karena itu, kita perlu memperbaiki lagi tata cara perkhidmatan kita di NU,” kata Gus Rozin.
Ia menilai ukuran keberhasilan khidmah tidak cukup dilihat dari kuatnya struktur organisasi. Manfaatnya juga harus sampai kepada jamaah, terutama mereka yang berada di lapisan bawah.
PBNU Perlu Lebih Sering Mendengar Daerah
Dalam diskusi tersebut, Gus Rozin turut menyoroti pentingnya memperkuat komunikasi antara PBNU dan struktur organisasi di daerah. Aspirasi dari pengurus cabang, pesantren, dan jamaah dinilai perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan di tingkat pusat.
Sejumlah pengurus NU Madura menyambut gagasan tersebut. Mereka berharap kepemimpinan PBNU berikutnya dapat membuka ruang dialog yang lebih luas sehingga persoalan di daerah tidak hanya diketahui melalui laporan formal.
Masukan dari bawah dinilai penting karena pengurus dan jamaah di daerah berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial. Karena itu, komunikasi dua arah antara pusat dan daerah dianggap dapat membuat kebijakan organisasi lebih relevan dengan kondisi lapangan.
Ketua PCNU Pamekasan yang hadir dalam forum juga menyinggung pentingnya memperkuat peran NU sebagai bagian dari masyarakat sipil. NU dinilai memiliki kekuatan sosial yang besar untuk berkontribusi dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan secara mandiri.
Pesantren juga mendapat perhatian khusus. Lembaga pendidikan tersebut dipandang bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang kaderisasi, pengembangan ilmu, pembentukan kepemimpinan, dan penguatan kehidupan sosial warga NU.
Di sisi lain, potensi jamaah dinilai masih dapat dikembangkan lebih maksimal untuk memperkuat jam'iyyah.
“Yang selama ini kurang dimaksimalkan adalah pemberdayaan dan optimalisasi jamaah dalam menopang jam'iyyah,” ujar salah satu peserta.
Pengalaman Organisasi Jadi Pertimbangan
Sejumlah aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut pada akhirnya mengarah pada kebutuhan terhadap sosok pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi peran NU dan penguatan fondasi internal.
NU tetap didorong memiliki pengaruh yang kuat di tingkat nasional maupun global. Namun, hubungan dengan pesantren, jamaah, serta struktur NU di daerah juga harus tetap menjadi perhatian utama.
Dalam konteks itu, rekam jejak Gus Rozin di lingkungan NU menjadi salah satu alasan yang dinilai relevan.
Gus Rozin pernah menjabat sebagai Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001, Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010–2013, Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013–2015, serta Ketua RMI PBNU periode 2015–2021.
Ia juga pernah dipercaya sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Pati periode 2019–2024 dan Katib Syuriah PBNU periode 2021–2023.
Saat ini, Gus Rozin menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029 sekaligus Ketua Majelis Masyayikh.
Pengalaman tersebut membuat Gus Rozin bersentuhan dengan berbagai sektor di tubuh NU, mulai dari kaderisasi, pendidikan, pesantren, struktur organisasi hingga dinamika organisasi pada level nasional.
Bagi pengurus NU Madura, pengalaman tersebut menjadi salah satu modal dalam menilai kemampuan seorang calon pemimpin PBNU.
Makki menegaskan, NU membutuhkan figur yang mampu menjaga keseimbangan antara penguatan peran ke luar dan pembenahan ke dalam.
“Kita butuh tokoh NU ke depan seperti Gus Rozin yang kuat keluar dan kokoh ke dalam,” katanya.
Her
Tidak ada komentar:
Posting Komentar